Turishappy

Tidur Happy

Review : Menginap Di Indigenous Bungalow Gili Trawangan

“Seratus Ribu Rupiah,” kata kusir Cidomo, saat saya menanyakan tarif untuk mengantar saya dan keluarga ke Indigenous Bungalow, Gili Trawangan, NTB. Mungkin terdengar mahal, tapi tarif untuk naik Cidomo di Gili Trawangan memang tergolong mahal. Maklum saja, di lokasi wisata ini tak ada kendaraan bermotor. Jadi, cidomo adalah satu-satunya alat transportasi, selain sepeda. Sejujurnya, saya tidak kaget dengan tarif ini. Karena saat memesan kamar di Indigenous, Vyara Wuryanta, pengelolanya sudah memberi tahu tentang tarif Cidomo ini.

Tak sampai sepuluh menit, Cidomo yang bergerak dengan lincah ini, sudah sampai di Indigenous Bungalow. Saya pun langsung kehabisan kata-kata saat menjejakkan kaki di sini….

Sejujurnya, lokasi Indigenous ini bisa dibilang agak nyempil di dalam. Tapi, saya justru merasakan keuntungan. Pasalnya, di kunjungan saya ke Gili Trawangan kali pertama pada 2009 silam, saya menginap di sebuah cottage yang letaknya di depan pantai, ternyata luar biasa berisik dan penuh dengan hiruk pikuk pengunjung. Maka, saat memesan kamar, saya pun mantap, meski saya harus berjalan kaki sekitar lima menit untuk sampai ke Pantai. Hal yang menguntungkan lainnya adalah, di sebelah Indigenous terdapat sebuah toko yang menjadi tempat berbelanja para pengelola penginapan, hingga harganya pun terbilang murah.

Saat sampai di Indigenous, saya disambut Vyara Wuryanta, pengelolanya, yang menyodorkan beberapa gelas orange jus yang segar. Karena saat itu musim liburan, tiga kamar yang saya pesan, hanya tersedia dua kamar. Sisanya, satu ekstra bed untuk masing-masing kamar dengan cepat disiapkan Vyara dan Heru, stafnya.

Dari dua kamar yang saya pesan, saya kebagian kamar di atas. Kamarnya sendiri cukup luas dan beratapkan anyaman yang membuatnya adem. Saat tidur siang, saya sengaja membuka sedikit pintunya yang terbuat dari kaca. Hingga angin sepoi-sepoi membuat tidur siang saya makin nyaman.

Setelah istirahat dengan cukup, saya kemudian memilih berenang. Kolam renangnya sendiri cukup luas, bersih dan dirawat dengan baik. Hingga keponakan saya yang sangat aktif, merasa  nyaman bermain air dan berenang di sini.

Saat keponakan saya yang berusia delapan tahun berenang dan bermain air, keponakan saya yang berusia remaja justru asyik mewarnai di book corner yang disediakan. Menurut Vyara, dia memang sengaja membuat tempat ini feels like home. Bahkan, saat bulan ramadhan lalu, ada seorang Chef bule menginap di tempat ini, dan memasak sejumlah menu untuk dirinya dan para tamu. Mereka pun makan bersama dengan penuh keakraban.

Karena kelelahan dalam perjalanan, saya dan keluarga sengaja tidak keluar tempat ini sejak sore hingga malam menjemput. Sebagai gantinya, saya menghabiskan waktu untuk ngobrol dengan Vyara, pengelolanya. Terus terang, banyak pengalaman yang dibagi Vyara mengelola tempat ini. Vyara yang mantan jurnalis dan produser sebuah tv swasta ini bercerita banyak hal. Mulai dari keprihatinannya akan peredaran narkoba di Gili Trawangan, sampai dengan banyaknya turis asing yang justru bekerja di sejumlah cottage. Mengelola bungalow dengan menjadi jurnalis tentu dua hal yang berbeda bagi Vyara, namun secara gamblang Vyara berkisah, “Ngga stress sama macetnya Jakarta, bahkan bekerja bisa dengan mengenakan celana pendek saja,” cerita Vyara dengan penuh tawa, sambil menyajikan bergelas-gelas kopi Lombok yang menjadi teman kami bicara. Nyaris pukul sebelas malam, saat saya izin undur diri untuk memejamkan mata. Kasur dan bantal empuk ditemani suara serangga di waktu malam, menjadi pengantar tidur saya malam itu.

Gili Trawangan jelang subuh suasananya mirip di rumah saya. Sayup-sayup terdengar adzan penanda waktu sholat subuh tiba. Sepintas saya melirik jam, pukul lima pagi lewat. Saya pun segera sholat subuh dan berencana untuk menjemput pemandangan cantik….. matahari terbit!!! Tadi malam, saya bertanya pada Vyara, di mana tempat terbaik untuk melihat matahari terbit. Surprises, ternyata letaknya sangat dekat dengan Indigenous. Setelah berjalan menyusuri pemukiman warga tak sampai lima menit, saya sudah berada di pinggir pantai dan menanti kehadiran matahari terbit.

Sambil menanti kehadiran terbit, saya bersantai di deretan kursi sebuah kafe yang masih tutup. Pelan-pelan ketika matahari mulai menampakkan diri, saya sangat takjub. Sungguh luar biasa kuasa sang pencipta menghadirkan sang surya…

Puas menikmati momen matahari terbit, saya menyusuri bibir pantai dan menemukan penjual nasi campur dengan aneka macam isi. Harganya pun sangat terjangkau, hanya 15 ribu rupiah saja. Sampai di Indigenous, tawaran sarapan dari Vyara pun saya tolak, lantaran sudah kenyang menyantap nasi campur. Sebagai gantinya, Vyara menghidangkan sepiring buah nanas dan semangka serta bergelas-gelas teh dan kopi yang membuat pagi saya semakin indah.

Sisa waktu jelang check out, saya habiskan dengan berenang. Sungguh, saat itu mirip villa pribadi kami karena suasananya sangat bersahabat,  pengalaman sangat berkesan buat saya khususnya. Setelah selesai berkemas, Vyara membantu untuk memesankan Cidomo. Sesungguhnya, jika tanpa membawa barang, bisa berjalan kaki selama hampir sepuluh menit, untuk menuju pelabuhan penyeberangan. Namun, jika membawa barang cukup banyak sebaiknya naik Cidomo.

Setelah berpamitan, saya dan rombongan yang begitu terkesan dengan pelayanan selama di Indigenous, kemudia berucap ikrar, semoga suatu saat dimudahkan waktu dan rezekinya untuk menginap lagi di sini. Karena, semalam di sini tak cukup rasanya. Fasilitas yang cukup lengkap serta pelayanan yang bersahabat membuat saya dan rombongan begitu terkesan saat menginap di Indigenous Bungalow.

 

Kalau kamu, apa sih yang biasanya membuat terkesan saat menginap di suatu tempat? Cerita dong di sini….

 

 

 

Indigenous Bungalow

Facebook : https://www.facebook.com/indigenousbungalow/?fref=ts

Website : http://www.indigenousbungalow.com/en-gb/

 

Leave A Comment